Berawal dari Ampera

Ini catatan lain tentang perjalananku ke Palembang. Ampera..ya ampera adalah kata yang menginspirasinya. Sepertinya kata ampera banyak memberi inspirasi dalam pemberian sebuah nama. Setidaknya ada 3 padanan kata yang ku ketahui tentang penggunaan kata ampera ini. Mau tau? Yuk kita bahas satu-satu.

1. Pahlawan Ampera

Teman-teman pasti tahu apa itu pahlawan ampera. Setidaknya lupa-lupa ingat..he..he..lebih banyak lupa dari pada ingatnya. Coba kalau dibalik ingat-ingat lupa pasti lebih banyak ingat dari pada lupanya. Kata pahlawan ampera tertuang dalam ketetapan MPRS No. XXIX/MPRS/1966 tanggal 5 Juli 1966. Namun ketetapan ini disesalkan oleh banyak pihak karena ketetapan MPRS nampak tidak berani menyebutkan nama-nama pahlawan Ampera dan juga tidak tegas memerintahkan kepada Pemerintah untuk menetapkan siapa yang harus ditetapkan sebagai pahlawan Ampera. Nama yang cukup terkenal salah satunya adalah Arief Rahman Hakim yang dilahirkan pada tanggal 24 Februari 1943 di Padang dengan nama Ataur Rahman. Pemberian nama pahlawan Ampera ini berdasarkan peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 Januari 1966, yang merupakan puncak atas kesabaran mahasiswa dan masyarakat terhadap kebijakan pemerintahan soekarno dengan rezim orde lamanya yang menyengsarakan masyarakat. Kondisi pemerintahan seperti ini  membuat mahasiswa meletuskan aksi demonstrasi di Jakarta, sebagai sikap penentangan terhadap kenaikan harga-harga. Demonstrasi ini melahirkan Tri Tuntutan Rakyat yang kemudian dikenal sebagai Tritura. Tiga tuntutan itu meliputi: Bubarkan PKI, Rombak Kabinet Dwikora dan Turunkan Harga. Ampera sendiri merupakan singkatan dari amanat penderitaan rakyat.

 2. Rumah makan Ampera

002KKP9473F605023B2EE1l

Untuk yang satu ini saya yakin sebagian teman-teman pasti sudah pada tau dengan rumah makan ampera. Ya sejenis rumah makan yang menyediakan nasi dengan berbagai menu (walau tidak seluruhnya) seperti yang ada di restoran-restoran atau rumah makan-rumah makan ternama misalnya Rumah makan sederhana, Rumah makan lamun ombak atau rumah makan lainnya dengan harga yang relatif lebih murah. Emang sih, ini tidak monopoli rumah makan padang aja yang menggunakan kata ampera untuk penamaan rumah makannya. Seperti yang ada di kota cimahi jalan cibabat yang menggunakan kata Ampera sebagai nama rumah makannya. Tapi bagi teman-teman yang mau datang ke ranah minang atau rumah makan padang di propinsi lain yang menggunakan kata Ampera, harganya pasti relatif lebih murah meski terkadang ada juga yang mematok harga lebih mahal sehingga ada sebagian pengunjung yang kecewa termasuk saya. Karena saya juga pernah kaget “koq rumah makan ampera bayarnya mahal?” :(. Tapi untuk RM Ampera yang ada di Cimahi dan beberapa cabangnya, ini jelas beda karena harganya tidak sama dengan rumah makan ampera yang ada di ranah minang (faktor tempat dan menu yang membedakannya). Sederhananya kalau rumah makan padang dengan label ampera kebanyakan harganya relatif murah (meski ada juga yang tidak sesuai dengan namanya) dan untuk rumah makan daerah lain yang menggunakan kata Ampera gk jamin sih kalau harganya murah meski mungkin saja ada yang murah he…he… Kalau difikir2 sih kenapa sekarang masih ada rumah makan padang yang menggunakan kata ampera untuk menunjukan rumah makan yang harganya relatif murah? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan asal kata ampera itu sendiri?….

3. Jembatan Ampera

Image1050

Masih ingat dengan lagunya ona sutra? Lagu yang cukup populer dahulu kala ketika era 90 an kalau tidak salah. Untuk merefresh ingatan kita, berikut saya tuliskan sedikit liriknya :

 

Bukittingi kulalui…bola..bola..

Sungai musi ku sebrangi…bola..bola..

Hujan badai kulalui…bola..bola…

Demi cinta ku yang suci….

love_u

He..he..yang lagi nge-gombal bagus juga nih.(tapi awas jangan sampai salah gombal ya :)). Hm meski ini gombalan ona sutra pada kekasihnya bola yang katanya mau menyebrangi sungai musi sebagai bukti cintanya rasanya gk salah tuh. Kan kalau mau nyebrangi sungai musi gk perlu ribet harus berenang dan basah-basahan, karena sudah ada jembatan Amperanya. Ya jembatan ampera, yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Sedikit kisah tentang pembangunan jembatan ampera berikut saya copy paste dari Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Ampera) …mau kisah lebih lanjut googling aja ya..

sedikit sejarah :

Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ” Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.

Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk na-ma Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu.

Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

 Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

4. ….Ampera (kalau masih ada) :)

Catatan : untuk beberapa tulisan di sadur dari beberapa sumber

Gambar : di openrice.com

About these ads
This entry was posted in Curhat, Umum and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Berawal dari Ampera

  1. rangtalu says:

    4. karupuak (am)pera
    dibuat dari ubi, yang dipotong kotak2 kecil.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s