Syukur

Alangkahnya nikmat bagi orang yang mampu setiap saatnya memahami betapa besarnya nikmat yang Allah berikan kepada dirinya. Rasa yang tidak akan dirasakan bagi orang-orang yang tidak ada space didalam hatinya sifat ini. Itulah syukur, sifat yang membuat rasulullah mampu shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Saat rasulullah shalat malam, aisyah terbangun ia melihat rasulullah sedang shalat dengan khusyuknya, kemudian ia melanjutkan tidurnya dan kemudian terbangun lagi dan melihat rasulullah masih shalat hinga kedua kakinya bengkak. Selesai shalat aisyah bertanya kepada rasulullah, “wahai rasulullah engkau shalat hingga kedua kakimu bengkak bukankah Allah sudah menjajikan surga terhadap dirimu?” rasulullah menjawab “bukankah aku termasuk hamba yang bersyukur”.

Syukur ternyata menjadi tempat yang istimewa di hati rasulullah sehingga menjadikan shalat malam sebagai bentuk ibadah yang paling disenangi bahkan ia akan memerintahkan umat untuk melaksanakannya seandainya tidak memberatkan umatnya. Seorang ulama bahkan menjadikan syukur menjadi suatu derajat yang terpuji. Begitulah syukur mendapatkan tempat dihati para rasul, sahabat dan orang beriman yang lainnya.

Lain para rasul dan orang beriman ada pula pula orang yang tidak mampu menangkap sinyal-sinyal kebaikan ini. Padahal cahayanya begitu jelas atau mungkin matanya menjadi bias karena banyak kekufuran yang hinggap. Lihatlah bani israil umat yang begitu dimanjakan Allah diselamatkan dari penguasa zalim (firaun) yang dalam sejarahnya belum ada penguasa hari ini mengatakan dirinya adalah tuhan. Mereka juga adalah umat yang Allah janjikan sebuah negri (palestina) yang mereka dapat masuk ke dalamnya dengan aman. Tapi apa yang mereka lakukan, mereka tidak mau mengikuti perintah Allah dan rasulnya (musa) memasuki negri tersebut lantaran takut dengan suku amalek yang berkuasa disana.

Seandainya mereka mau menyadari bahwa ia telah diselamatkan Allah dari firaun maka suku amalek pun akan lari dan mereka akan masuk dengan aman ke palestina. Ada suatu perkatan mereka yang sebenarnya tidak pantas mereka ucapkan pada Allah dan Rasulnya dan Allah pun menukilkannya dalam Al-quran mereka mengatakan “wahai musa pergilah kamu bersama tahanmu berperang dan biarkan kami menunggu disini”. Karena itulah mereka itu dikutuk berputar-putar di padang Tih selama 40 tahun tak dapat memasuki kota yang dijanjikan. Allah masih memberikan perlindungan dengan menaungi awan agar terlindungi dari sengatan matahari dan makanan instan manna dan salwa. Itupun masih mereka protes “ Hai Musa, kami bakal tak sabar menerima satu jenis makanan. Karenanya berdo’alah kepada Tuhanmu, agar Ia mengeluarkan untuk kami tumbuhan bumi”. (QS Al Baqarah:61). Apa yang salah disini???

Lain dulu lain sekarang bangsa ini telah merdeka beberapa tahun lamanya tapi syukur seperti apa yang mereka persembahkan, orgen tunggal sampai pagi, minum-minuman keras, campur baur laki-laki dan perempuan walaupun satu atau dua hari sebelumnya sudah diingatkan dengan gempa. Heran memang, peringatan demi peringatan sudah diberikan tapi emang ruang hati itu sendiri sudah penuh sehingga sinyal-sinyal itu tidak mendapatkan tempatnya. Sekarang apa jadinya ketika rasa syukur pun tidak hanya hilang dari orang-orang awam saja tapi juga meliputi orang-orang yang menjadi penyeru nilai-nilai ini?? Waulahu ‘alam

This entry was posted in Islam and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s