Ada kenikmatan tersendiri ketika menyalahkan orang lain

Ada nuansa tersendiri yang dia rasakan ketika kalimat ini diutarakan oleh senior da’wahnya. Kalimat yang bagi sebagian orang mungkin tidak berarti-arti apa2. Tapi ada suatu pegharapan darinya agar nuansa ini dapat dirasakan oleh saudaranya yang lain walaupun nuansa ini tidak dapat dipaksakan karena memang setiap orang itu berbeda. Kejadian ini berawal ketika ia di undang salah satu wajihah da’wah kampus FSI FMIPA (nama yang sebenarnya) dalam rangka temu kangen lintas generasi penggerak da’wah di kampus itu.

Sebelum acara dimulai ternyata yang akan mengisi adalah senior da’wahnya, ketika itu ia sedang menunggu di pelataran ruang kuliah gedung A. Ketika senior da’wahnya ini datang ternyata ada ikhwah lain yang juga sedang menunggu beliau untuk mengisi acara yang berbeda di gedung yang sama. Beliau menyalami ikhwah yang lain ini tapi dirinya terlupakan yang sebenarnya tidak ada maksud dari beliau untuk melupakan dia. Namun beliau berbalik lagi dan berkata “ eh ado antum ruponyo mah ha salam wak ciek lu” lantas dia menjawab “deh abang ko lai dilupoannyo se awak mah” lantas beliau menjawab “antum diam se tu iyo” setelah bersalaman beliau meningalkannya karena akan mengisi acara itu terlebih dahulu sambil mengatakan “Ada kenikmatan tersendiri ketika menyalahkan orang lain” kepada ikhwah lain yang sama menunggu dengan dia tadi.

Perkataan itu tenyata berefek baginya, sampai-sampai kalimat itu selalu bergelayutan dalam fikirannya selama pertemuan dan bahkan sampai beberapa hari. Selama acara ia mencoba untuk mencari alasan untuk mencari pembenaran terhadap dirinya dan menyalahkan seniornya ini. Tapi Allah berkendak lain yang muncul dalam benak dan hatinya adalah bahwa sebenarnya dia lah yang salah. Dan itu ternyata benar karena kalau dipikir2 lagi tidakkah kita ingat bahwa sesungguhnya kita di sunnahkan untuk mendahulukan salam karena keutamaannya yang begitu besar. Ya untuk lengkapnya mungkin bisa lihat kitab-kitab kita lagi.

Itu lah realitas kita yang terkadang sangat mudah, senang dan bahkan ada kenikmatan tersendiri untuk menyalahkan orang lain. Yang ada di fikiran kita adalah perasaan (Asy-Syu’ur) bahwa kitalah yang benar dan mencoba mencari alasan untuk pembenaran untuk itu. Masih untung ketika perasaan (Asy-Syu’ur) itu dilandasi dengan keimanan yang mungkin hasilnya adalah benar tapi bagaimana kalau Asy-Syu’ur itu lebih dilandasi dengan hawa nafsu, yang terjadi adalah menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri.

Kita mungkin pernah melihat atau mungkin mengalaminya sendiri, ketika kita dengan seenak nya menyalahkan saudara kita karena tidak sesuai dengan prinsip kita, menyalahkan jundi karena tidak taat, atau jundi dengan seenaknya menyalahkan qiyadah. Kejadian ini sekali lagi muncul karena perasaan (Asy-Syu’ur) yang tidak dilandasi keimanan. Perasaan untuk tidak pernah melihat sisi kita dengan pandangan yang benar dan hanya melihat sisi yang ada pada orang lain dengan pandangan yang buruk. Kenapa semua itu kita lakukan??? Maka jawaban yang muncul adalah karena Rendahnya keimanan kita dan karena Ada kenikmatan tersendiri ketika menyalah orang lain.

Ya Allah kami berlindung kepada Mu dari perasaan seperti ini. Dan limpahan kepada kami Perasaan (Asy-Syu’ur) yang Engkau Ridhai. Amiin  Ya Allah.

Waulahu ‘alam..

This entry was posted in Curhat and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s