Kebekuan

Suatu anugrah yang sangat besar yang Allah berikan kepada manusia. Ya kepada setiap manusia tanpa ada driskiminasi. Anugrah itu adalah fisik yang rupawan, akal yang brilian dan hati yang beriman, walaupun itu dengan tingkat kesebandingan yang berbeda yang jelas Ia tak akan mendiskriminasikannya karena Allah adalah maha adil, pengasih dan penyayang. Namun anugrah itu tidak begitu elok digunakan oleh manusia. Fisik yang rupawan tidak digunakan dengan ibadah yang benar, akal yang yang brilian tidak digunakan untuk memikirkan kebesaran ciptaannya dan hati yang beriman dikotori dengan kemaksiatan yang melegamkan.

Lihatlah kondisi umat manusia hari ini walaupun ini tidak menunjukan jumlah keseluruhannya. Anak-anak yang masa mudanya dengan fisik yang begitu fress dan kuat, yang mungkin bisa dibina dengan aktifitas permainan yang mengandung nilai-nilai kehidupan malah dilenakan dengan games atau film-film konyol yang melemahkan semangat tanpa mengandung nilai kebenaran. Tak hanya itu anak-anak dengan rasa ingin tahunya yang begitu kuat yang seharusnya diasah dengan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan mengalami penurunan semangat untuk belajar. Permasalahannya tentu disebabkan karena karakter games atau film yang ditampilkan selalu memiliki kemampuan luar biasa atau mendapat kemampuan dari yang lain secara instan dengan kombinasi syirik.

Atau para pemuda sekarang yang menghabiskan waktunya dengan kongkow-kongkow tidak ada arti, narkoba, freesex dan segala aktifitas yang menurunkan masa produktifnya. Ditambah lagi dengan sikap mental yang merasa puas dengan ilmu yang ada padahal sikap merasa puas ini adalah awal dari kebodohan. Sering juga sentilan yang dimunculkan “buat apa sekolah atau kuliah kalau tidak mendapatkan pekerjaan” ya meskipun tujuan ini tidak bisa dinafikan. Tapi yang terpenting adalah bagaimana setiap harinya ada penambahan keilmuan yang kita dapatkan karena pasti akan berbeda antara orang berilmu dengan orang tidak berilmu. Untuk permasalahan ibadah, mungkin ini lebih parah lagi. Jarang sekali pemuda mau mengisi surau-surau atau masjid-masjid yang merupakan basis umat ini. Terlebih lagi kita tau bahwa pemuda harapan bangsa dan agama. Ibadah bagi mereka cukup dengan shalat jum’at saja atau mungkin ketika ramadhan saja. Satu hal yang sering melemahkan para pemuda adalah ungkapan-ungkapan negatif yang muncul seperti “ jangan sok alim deh ntar besok kufur lagi”. Sekali ini melemah kan apalagi ketika tidak ada yang mensuportnya.

Lain lagi orang tua yang mungkin diharapkan kebijaksanaannya malah menjadi pemicu untuk melemahkan semangat generasi sesudahnya. Orang tua yang diharapkan menjadi teman diskusi bagi anak-anaknya malah menjadi lawan karena kebekuan fikiran orang tua yang tidak mau menerima pendapat anak-anak mereka walaupun itu adalah suatu kebenaran. Ungkapan yang sering muncul adalah “ kamu kan masih seumur jagung dan saya sudah merasakan banyak asam garamnya”. Ujungnya adalah penolakan yang membuat mereka pergi dari lingkungan keluarga. Beruntung kalau mereka lari ke tempat yang benar tapi bagaimana jadinya kalau mereka lari ke tempat-tempat yang sekarang ini banyak ideologi-ideologi yang menyesatkan.

“ kamu kan masih seumur jagung dan saya sudah merasakan banyak asam garamnya”

Orang tua mungkin dari segi fisik pasti sudah jauh menurun. Mereka yang diharapkan sudah bisa mengisi waktunya untuk beribadah malah masih mau menunda-nunda entah sampai kapan atau mungkin ketika sudah mulai pikun saja. Ini tidak membenarkan kalau beribadah itu ketika sudah tua saja tapi harus diajarkan dari kecil agar generasi seperti ini tidak terulang lagi. Mungkin untuk yang mau beribadah masih ada, tapi masih juga banyak ditemui yang namanya kesalahan-kesalahan dalam beribadah yang dibenarkan. Kata yang populer muncul adalah “ guru-guru kami dahulu megajarkan seperti ini” ya seperti inilah jadinya bagi sebagian pemuda yang mengikutinya akan meneruskan ritual-ritual ini. Tapi ada juga sebagian besar pemuda yang tidak mau beribadah lantaran ibadah itu seperti ritual yang jauh dari rasionalitas. Ibadah tidak lagi sebagai kebutuhan ruhiyah yang segera harus dipenuhi tapi sebagai beban yang dipikul tanpa ada makna dibaliknya. Inilah kebekuan itu yang sampai sekarang masih belum mencair. Kapan ia akan mencair apakah akan menunggu orang-orang yang mencairkannya atau saya, anda atau kita semualah yang akan mencairkannya. Jangan tunggu lagi segeralah !!

This entry was posted in Islam and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kebekuan

  1. Achmad Suryaman says:

    Aww,
    “Allah tidak melihat pada rupa/wajahmu juga tdk pada bentuk fisik/tubuhmu, tp Ia melihat pd Hati-mu.” …..yg terbaik diantara kamu adalah yg paling bertaqwa”
    Yg tua belum tentu dewasa, yg muda bisa jadi lbh bijak.
    Ayo pemuda, bangkitlah, perbaiki diri sendiri & seru orang lain.
    Bina keluarga sakinah, membangun generasi penerus yg kuat.
    Selamat buat ikhwan akhwat ex. MIPA yg sdh punya jundi2x (1,2,3 atau lebih)
    insya Allah mereka penerus perjuangan dakwah “kita”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s