Karena kau bukan Musa dan dia bukan Fir’aun

Minggu ini (27 juli 2010) aku disuguhkan kisah menarik. Hmm…Menariknya karena bagi yang mendengarkannya langsung, agaknya akan tertawa sekaligus sedih mengingat gaya orangnya. Ceritanya begini, sepulang dari kerja teman ku curhat dengan masalah kuliahnya. Dia mendapatkan semprotan pedas dosennya. Ia komting angkatan sehingga sering berhadapan dengan para dosen. Suatu ketika ia diminta oleh seorang teman untuk menghubungi seorang dosen yang terkenal agak killer untuk meminta buku temannya dari dosen tersebut walaupun sebenarnya ia juga memiliki keperluan yang sama. Ia menghubungi dosen itu via telefon  menjelang pukul sebelas dan dosennya menyanggupi untuk bertemu pukul sebelas. Maksud hati yang bertemu bukan dia tapi teman tadi, karena ia hanya perantara. Namun apes, dosen itu mengira ia yang akan bertemu dengan temanku itu, sedangkan temanku itu tidak berada disana karena ada tugas kelompok yang harus diselesaikan.

Pukul satu ia harus mengumpulkan tugasnya dengan dosen tadi. Ketika bertemu sang dosen, ia mendapati dosennya marah besar sehingga siang itu harus mendapat ceramah gratis campur umpatan. Tugas yang seharusnya bisa dikumpulkan dan diterima dengan baik oleh dosennya malah di coret-coret dan disalahkan. Kegigihannya untuk terus memperbaiki ternyata juga membuahkan hasil, tugas tersebut bisa di Acc dosen itu walaupun terus mendapatkan ceramah pedas dosennya. Sembari mendengar ceramah gratis itu terlintas di fikirannya untuk membaca doa nabi musa dan berfikiran dosennya kan non muslim atau ia ibaratkan fir’aunnya dan berharap doa ini akan ampuh meredam amarahnya seperti ketika musa berhadapan dengan fir’aun. Tapi doanya tak begitu ampuh ia tetap kena semprot oleh dosennya, sampai-sampai dosennya bilang ”seandainya saya menjadi pengujinya maka ia tak akan diluluskan”, sambil celetuk didalam hati ”untung nggak ibuk yang menjadi penguji saya”.

Sesampai di rumah ia ceritakan seluruhnya pada-pada teman-teman yang lain sambil celetuk ”doa ini ternyata nggak ampuh sama firaun ini”. Lantas tanpa rasa bersalah saya bilang padanya ”karena anda bukan musanya dan ia bukan fir’aunnya” makanya nggak ampuh. Sejenak ia berfikir ternyata ada benarnya juga bukan doanya yang salah tapi……isi sendiri ya…..^_^). Mari kita renungkan mungkin kisah ringkas ini mengadung sedikit pelajaran yang bisa kita ambil.

This entry was posted in Curhat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s