Memaknai Nuansa Haji

Jutaan orang tiap tahunnya memadati kota makkah. Kota yang tak pernah sepi dikunjungi oleh banyak umat manusia diseluruh dunia. Semua baur menjadi lautan manusia yang terhimpun dalam kesatuan akidah. Semuanya sama, hanya beberapa helai kain tidak berjahit menjadi pelindung diri, bahkan seorang kaya pun atau bahkan raja tidak ada bedanya. Mereka datang dengan senang hati memenuhi panggilan sang khalik untuk bermunajat kepada tuhannya. Daerah yang menjadi tempat ibadah pertama kali dibangun di muka bumi. Mereka datang kesana untuk memenuhi rukun islam yang kelima yakni menunaikan ibadah haji yang waktunya telah ditentukan.

Begitulah ibadah haji, ibadah yang utama setelah berjihad seperti sabda nabi kita Muhammad SAW.

Abu Hurairah RA berkata“Rasulullah saw ditanya mengenai amal yang paling utama, maka ujar beliau, yaitu beriman kepada Allah dan Rasul Nya. ‘Tanya orang itu lagi, ‘Kemudian apa?’ Ujar beliau, ‘kemudian berjihad (berjuang) dijalan Allah. ‘Ditanya pula, ‘Setelah itu apa? ‘ Ujar beliau, ‘ Setelah itu haji yang mabrur.’”

Ibadah haji merupakan ibadah yang setiap muslim harus terniatkan dalam diri mereka untuk melaksanakannya minimal sekali dalam hidupnya. Ada beberapa nuansa yang bisa kita ambil dalam rangkaian ibadah ini yang semestinya menjadi kepribadian kita. Menjadi kepribadian setiap muslim terutama bagi seorang dai.

Nuansa pertama yang mesti kita miliki adalah nuansa jasmaniyah yakni nuansa bagaimana kita mampu melatih fisik dan menjaganya mejadi fisik yang kuat dan berdaya guna. Bagaimana tidak? Allah sendiri menyukai hambanya yang kuat dalam segala amal dan Allah sangat mencintai mereka. Coba kita ingat bagaimana nuansa jasmaniayah ini dipertontonkan sejarah oleh seorang wanita yang begitu kuat berlari dari bukit safa ke lembah marwa sebanyak tujuh kali ditanah yang tandus tak berpenghuni. Apakah itu tidak letih?? Jawabannya jelas ya. Tapi letih menjadi terkalahkan oleh siti hajar dengan kekuatan fisiknya.

Begitu juga dengan Ibrahim ketika hendak mengkurban anaknya ternyata beliau di goda oleh syaitan tapi ia mampu mengusirnya dengan melemparnya dengan batu. Itulah yang kita kenal sekarang dengan melempar jumrah dan prakteknya butuh fisik yang kuat. Atau sejarah lain menceritakan bagaimana Rasulullah SAW ketika peristiwa fathu makkah datang berlari-lari kecil mengeliling ka’bah (tawaf) padahal perjalanan dari madiah cukup jauh dan melelahkan. Sehingga para sahabat bertanya : “kenapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “ini menunjukan kepada kaum kafir Quraisy bahwa kita masih kuat dan ini bukan sekedar unjuk kebolehan saja tapi Rasulullah dan para sahaba benar-benar kuat melaksanakannya.

Nuansa kedua yang mesti kita tumbuhkan adalah nuansa ruhaniyah yakni nuansa bagaimana membangun ruhani yang kuat penuh ketundukan kepada Rabnya. Nuansa inilah yang mengantarkan kita khusuk menghadapi Rab semesta Alam. Nuansa yang membentuk keyakinan penuh akan segala ke Maha-an Allah, sehingga yang muncul adalah keta’tan, ketundukan dan kepasrahan. Coba kita perhatikan sejarah ketika Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan putranya di tengah gurun tandus tak bertuan. Ketika itu Siti Hajar bertanya :”Wahai Ibrahim, hendak kemana engkau dan meninggalkan kami di lembah yang sunyi, tidak ada teman dan sesuatu apapun disini?”. Pertanyaan itu diucapkannya berkali-kali, tetapi Ibrahim sengaja tidak menoleh kepada istrinya. Tanya Hajar pula : “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” Ya, Ujar Ibrahim, kalau begitu” kata Hajar pula, “Ia tidak akan menyia-nyiakan kami.” Luar biasa bentuk keyakinan yang hanya bisa di peroleh dengan kekuatan Ruhaniyah, ya hanya Ruhaniyah yang kuat.

Nuansa ketiga yang mesti kita tumbuhkan adalah nuansa Maliyah (harta) yakni nuansa bagaimana menumbuhkan sikap semangat bekerja untuk mencari harta sebanyak-banyaknya. Seringkali kita terjebak dengan pandangan yang sempit tentang mencari harta. Kita sering berfikir harta jangan terlalu dikejar. Tapi tahukah kita tidak ada larangan untuk mencari harta sebanyak-banyaknya dan bahkan seorang Da’I itu harus kaya. Coba kita lihat sejarah ketika peristiwa fathu makkah berapa banyak dana yang harus dikeluarkan untuk memberangkat ratusan ribu pasukan dari madinah ke makkah?? Sekali lagi tidak sedikit, dan bahkan keberangkatan itu adalah keberangkatan yang tertunda menjelang perjajian Hudaibiyah. Padahal itu sudah pertengahan perjalanan tapi batal dan dibuatlah perjanjian Hudaibiyah. Untuk kondisi realita hari ini untuk berangkat haji satu orang kita harus mengeluarkan uang sebanyak 31 Juta?? Bagaimana??

Nuansa keempat yang mesti kita tumbuhkan adalah nuansa ‘aqliyah (akal) yakni bagaimana menumbuhkan sikap semangat untuk menambah kapasitas keilmuan kita menjadi orang yang spesialis berwawasan global. Nuansa ini tak perlu kita ragukan lagi, karena ia adalah salah satu parameter tingginya suatu peradaban. Sederhananya saja bagaimana mungkin kita beribadah tanpa ilmu?? Orang yang berilmu lebih utama ketimbang orang yang beribadah tapi tidak paham dengan ibadah yang dilakukannya. Kisah siti hajar ketika berlari-lari dari bukit safa ke lembah marwa adalah bentuk keingintahuan siti hajar untuk mencari pertologan, ia tidak diam saja meratapi nasib tapi terus bergerak. Atau bagaimana Rasulullah mempersiapkan diri ketika peristiwa fathu makkah semuanya penuh strategi dan perencanaan bukan asal-asalan.

Begitulah islam mengajarkan ibadah yang kita lakukan mengandung banyak pelajaran di dalamnya.

Wallahu ‘alam bishawab.

This entry was posted in Islam and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Memaknai Nuansa Haji

  1. Assalamu’alaikum. Salam kenal. Nice blog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s