Harus diperbaharui

Suatu ketika Buya Hamka di hadang oleh salah seorang jama’ah. Pertemuan buya dengan jama’ah nya ini ternyata menimbulkan dialog yang sangat berharga tidak hanya bagi dia tapi juga saya, anda, dan kita semua. Awal dialog :

Jama’ah               : “Assalamua’alaikum wr. wb. buya”

Buya Hamka       : “Wa’alaikumussalam wr. wb. Ada hal apa gerangan wahai saudaraku, kamu menemuiku.”

Jama’ah               : “Wahai Buya saya ada pertanyaan yang sangat menggangu fikiranku”

Buya Hamka       : “Apa yang bisa saya bantu wahai sadaraku?”

Jama’ah               : “Begini wahai buya, ketika saya pergi ke Makkah ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Saya mengira Arab saudi yang ada kota Makkahnya adalah tempat yang suci yang tidak ada pelacur disana. Bagaimana tanggapan buya?”

Buya Hamka       : (Dengan sangat bijak Buya Hamka menjawab dengan sebuah pertanyaan). “Wahai saudaraku, saya juga ingin bertanya kepadamu, waktu saya pergi ke California saya pun heran kenapa kota yang cukup maju ini yang dikenal dengan kesekulerannya malah tidak saya temukan adanya pelacur. Bagaimana pula tanggapan mu?”

Jama’ah               : “Ah yang benar buya. Toh Makkah saja ada saya temui apalagi California. Bercanda buya neh.”

Buya Hamka       : (Dengan tersenyum buya hamka mencoba untuk menjelaskannya ‘kaya ini kali senyumnya Smile J he..he’ ). “Begitulah manusia ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Wahai saudaraku apa yang kamu inginkan ketika datang ke Makkah? Ketika kamu datang dengan maksud baik maka kamu akan terhindar dari kejahatan (kemaksiatan) begitu juga sebaliknya. Saya datang ke California tidak ada saya jumpai satu orang pun seperti orang yang kamu maksudkan karena saya kesana bukan untuk keinginan murah begitu.”

Jama’ah               : “Dengan tersipu malu jama’ah ini menganguk paham akan maksud sang buya”.(ndak angguak-angguak balam).

Sedikit kisah diatas ternyata banyak makna yang bisa kita ambil, mulai dari cara buya hamka menjawab pertanyaan jama’ahnya dengan sangat bijak (khususnya para dai terhadap mad’unya) dan khususnya dalam hal memperbaharui niat. Karena sesungghunya niat akan mengantarkan kita pada apa yang kita inginkan.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ε bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan(1) tergantung niatnya(2). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya (3) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

Kisah diatas ditulis dengan sedikit penambahan dialeg yang mudah2an tidak mengurangi makna yang sesunguhnya.

This entry was posted in Islam and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s