Mimpi Depan Talam

Menjelang maghrib tanggal 10 muharam 1433 kami bertiga sebut saja Muhammad Faisal Al-Mandawy, Dedet Al-Muarowy dan Aidil Chandra (Nama yang sebenarnya) begitu bahagia. Kebahagian ini karena Allah memberikan kami kekuatan untuk bisa berpuasa dengan pahala yang begitu besar yakni di ampuni dosa2 setahun yang lalu (amiin ya rabb). Dengan segelas capuccino, segelas juz, beberapa bungkus roti dan beberapa cemilan dari batam kami berbuka, alhamdulillah sungguh besar nikmat Allah. Ba’da maghrib dengan setalam nasi dan beberapa samba (tidak sambal, dalam bahasa minang lauk-pauk) mimpi-mimpi itu mulai bermunculan menemani kami menikmati hidangan. Gk salah kiranya, ini karena orang keempat sebut saja Aldino desra chaniago (Nama sebenarnya)  yang ikut nimbrung memenuhi sumatera tengah kami. Entah dari mana mimpi2 itu dimulai tapi ia begitu nyata untuk bisa direalisasikan. Tapi yang jelas ini semua adalah karena semangat untuk memiliki yang lebih dan tentu dengan sifat qanaah yang berimbang. Hidup berawal dari mimpi begitulah bondan prakoso melantunkan syairnya dengan semangat yang membara untuk merealisasikan mimpi dan citanya. Tak hanya itu, ternyata lirik syairnya wali juga menambah mimpi2 itu bisa menjadi suatu kenyataan dengan menukar beberap bait katanya. Kalo wali “mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian” tapi ajo din (Aldino desra)  begitu kami memanggilnya menukarnya menjadi

“ mencari sesuap nasi dan sebongkah emas plus demi kau dan si buah hati”  he…..he……

Ini bukanlah mimpi kosong tiada arti karena ia tidak hanya lahir dibenak saja tapi sudah direalisasikan; buku, diskusi, artikel2, sudah dikumpulkan dan sekarang pun sudah diaplikasikan. Begitulah ajo din dengan semangat yang membara dan  jargonnya “ i am on fire” membuat ku ikut mengikuti langkah-langkahnya walau dapat percikan butir emas tak apalah…lagi2 demi sesuap nasi dan sebongkah emas. Terlalu lebay emang tapi tuk sesuap nasi masih adalah, namun sebongkah emasnya masih tahap explorasi…he…he…begitu juga berliannya. Ini juga bukan lelucon yang jadi bahan candaan, karena yang ku lihat kerja2 keras yang dilakukannya menjadi prasyarat untuk mencapainya, agaknya ini sesuai dengan himbauan Pak Gubernur Sumatera Barat dan Wakilnya “ Ingin sejahtera, mari kerja keras dan bersunguh-sunguh…”. Dengan sedikit candaan ku bilang pada ajo din “koq tanggalam bana dak baa jo asa lai dapek berlian yang rancak, dek berlian yang rancak tu yo di lauik yang dalam koq berlian yang biaso se di karamba banyak mah lai mudah maambiaknyo” (kok tenggelam betul gk masalah asal bisa dapat berlian yang bagus, karena berlian yang bagus itu benar di laut yang dalam, kok berlian yang biasa saja banyak di keramba, dan mudah mengambilnya). Inilah hidup yang harus dirangkai dengan mimpi2 yang harus segera di realisasikan dan tentu tetap dalam syariat Allah SWT, makanya aku menanyakan statusnya bagaimana dan hasil diskusi dengan pakarnya ternyata tidak masalah sampai saat ini. Makan selesai mimpi pun terwujud….Alhamdulillah ya….

Jadi kaya tentu, karena itu pilihan maka jangan tunda lagi, ini baru satu mimpi yang ingin di capai, kami memiliki banyak mimpi2 lain yang harus segera di realisasikan…”demi sesuap nasi dan sebongkah emas plus demi dia dan si buah hati…he…he….ha..hayy..ya”

Ini ceritaku..mana cerita mu… # Setalam berempat

This entry was posted in Curhat and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Mimpi Depan Talam

  1. next time buko bareng wak situ lahh….

  2. Pingback: Ramadhan beda #6 Mimpi Depan Talam jilid 2 | . : Hamasah : .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s