Bahkan Dengan Baju Yang Sama

Menarik ketika membaca status FB seorang teman begini kira2 bunyinya :

Pernah dengar kredo ini? :
” Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan”
Hhhmm…ternyata kredo ini tak sepenuhnya benar.
Bagaimana kalau kita ganti dengan :
” Perlakukanlah orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan”
Karena….Kita dilahirkan dengan fisik, rasa, keinginan, impian dan banyak hal yang berbeda. Tak pantas jika memaksakan sesuatu yang terlihat ” baik ” ; hanya dari sisi kita.

Hm..terlepas bagaimana cara kita menafsirkan setiap kalimat, namun pernyataan ini ada benarnya juga walaupun terkadang ketika proses berdialektika terjadi mungkin akan ada ketidaksepahaman.  Namun bukan ini menjadi topik pembahasan kita tapi makna apa yang bisa kita ambil. Dengan melihat lagi perjalanan sirah nabi maka ditemukan salah satu faktor keberhasilan da’wah nabi adalah kemampuan beliau memposisikan dirinya terhadap umatnya. Nah kita yang berada di generasi jauh dari beliau tentu ingin mengulangi sejarah keberhasilan ini dengan meniru apa yang beliau lakukan.

Tak bisa dipungkiri ada diatara kita yang dengan semangatnya menyampaikan nilai-nilai islam baik itu kepada binaan, teman atau masyarakat yang lainnya ternyata bukan respon penerimaan yang didapatkan tapi penolakan. Dan yang paling parah adalah ketika penolakan itu terhadap islamnya yang dianggap terlalu sempit padahal yang menjadi sumber masalah adalah sang penyerunya. Pernyataan yang perlu kita sampaikan juga pada setiap orang agar tidak muncul kekeliruan adalah :

“Pemuka agama itu bukanlah agama itu sendiri”

Termasuk juga didalamnya ketika interaksi sesama penggerak da’wah, ketidakmampuan memahami seorang teman menjadi penghalang soliditas organisasi. Yang tua tidak terlalu bijaksana menyikapi yang muda dan yang muda terlalu bersemangat tanpa bisa menghormati yang tua. Padahal ketika kedua potensi ini didayagunakan tentu menjadi energi yang sangat besar untuk mensukseskan gerakan organisasi. Sikap salah yang sering kita lakukan adalah memaksakan apa yang kita pahami kapada orang lain padahal belum tentu apa yang kita pahami bisa dengan tepat dipahami oleh orang lain. Dan bahkan dengan pemahaman yang samapun belum tentu akan ditampilkan dengan cara yang sama tanpa harus keluar dari subtansi pemahaman itu, karena ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mungkin mepengaruhi diantaranya bisa umur, latar belakang pendidikan, psikologis, adat istiadat, keyakinan dan faktor-faktor yang lainnya.

Analogi yang sederhana untuk memahami ini seperti sebuah baju yang sama yang dipakai oleh orang yang berbeda. Walau dengan baju yang sama pasti akan berbeda keindahan penampilan yang kita lihat. Postur tubuh, cara berjalan, kombinasi pakaian yang digunakan akan menampilkan keindahan penampilan yang berbeda. Makanya Rasulullah SAW telah mengingatkan kita akan hal itu,

“Anzilunnaasa manazilahum” (Tempatkanlah manusia sesuai dengan tempatnya yang seharusnya (proporsional).

Hal yang sangat jelas yang pernah dicontohkan oleh rasulullah kepada para sahabatnya adalah ketika menyikapi peristiwa perang tabuk. Rasulullah dalam memberikan hukuman kepada orang-orang yang tidak ikut serta dalam perang dengan kadar yang berbeda-beda. Untuk sahabat sekaliber ka’ab bin malik dan dua orang sahabatnya diberikan hukumun didiamkan selama lima puluh hari tapi tidak untuk yang lain. Dalam kisah lain rasulullah ketika menjelaskan tentang islam juga menyampaikannya dengan pengertian yang berbeda-beda. Ketika para sahabat terbaik sedang berkumpul dan malaikat jibril bertanya tentang islam maka rasulullah menerangkan islam dengan makna rukun islam, atau dalam hadits lain ketika ada yang bertanya tentang islam maka rasulullah menjawabnya dengan “berimanlah dan istiqamahlah. Dan pada peristiwa yang lain ketika seorang pelaku maksiat bertanya tentang islam kepada rasulullah, rasulullah menjawab dengan jawaban yang jauh lebih sederhana dari dua jawaban diatas “engkau tidak boleh berbohong”.

Perbedaan jawaban yang diberikan rasulullah tentang makna islam apakah salah? Tentu tidak, karena begitulah seharusnya ketika dalam memberikan penjelasan sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

“Khaatibunnaasa ‘ala qadri ‘uqulihim” (Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya).

Bagaimana dengan kondisi kita sekarang? Tentu hanya kita yang mengetahui, yang perlu kita pahami hanya bagaimana kita memahami kondisi KEKINIAN DAN KEDISINIAN kita.

#Selamat beramal —–> rabthul ‘am sebagai salah satu sarana

By : Al-Mandawiy (disaat bersahabatnya cuaca Jl. khatib sulaiman)

This entry was posted in Islam, Tafakur and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bahkan Dengan Baju Yang Sama

  1. Pingback: Masih memahami | . : Hamasah : .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s