Ramadhan beda #7 Badoncek

Unik emang, dan ini belum saya temukan di tempat yang lain atau mungkin dibeberapa tempat masih ada. Seperti biasa jelang tausyiah ramadhan dari sang ustadz, pengurus biasanya akan mengumpulkan infak dari jama’ah. Uniknya dalam pengumpulan infak pengurus di sini tidak seperti pengurus masjid atau mushalla yang lain. Kalau kebanyakan masjid atau mushalla pengumpulan infak hanya menjalankan katidiang dan beberapa orang, untuk meminta infak kepada jama’ah tapi ada yang beda dengan mushalla ini. Mushalla Nurul islam yang berlokasi di KODAM (Koto Tingga Dalam :D) punya cara yang unik untuk memungut infak dari jama’ahnya. Selain dua cara di atas ada satu cara lagi yaitu dengan badoncek. Budaya ini katanya sih lebih populer di kab padang pariaman meski pada hakikatnya badoncek tetaplah usaha untuk pengumpulan dana, namun dari segi caralah yang membedakannya.

Seperti yang terjadi di mushalla ini, pengumpulan infak akan di pandu oleh salah seorang pengurus dan memancing jama’ah untuk mengeluarkan infaknya. Berdasarkan asal katanya doncek berarti lompat/lempar. Dan ternyata benar para jama’ah selain memasukan infaknya ke katidiang, jama’ah juga melemparkan uangnya ke depan meja pengurus bahkan dari barisan ibuk-ibuk …he…he….untung mushallanya tidak terlalu besar jadi masih bisa sampai. Tapi tidak jarang juga lo, bapak-bapak yang di shaf depan kena lemparan uang dari ibuk-ibuknya ha..ha..LOL. Yang jelas tak akan ada yang marah karena sudah sama-sama paham. Ada juga jama’ah untuk memancing jama’ah lain dengan melemparkan uang seribuan dan bilang (iko saribu untuak yang di suduik = ini seribu untuk yang disudut), (saribu untuak pak baba = seribu untuk pak baba), (yang mambangkik bingkuang manyo ko, saribu lai koha = yang memanen bingkuang mana nih, ini seribu lagi) dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang keluar. Yang namanya tersebut gk mau kalah ikut juga melakukan hal yang sama. Bagi yang baru mengalami seperti saya pasti tertawa2 kecil, ya iyalah jama’ah disana juga menikmatinya koq he..he..🙂.. yang jelas tidak hanya ribuan tapi puluh ribuaan juga ada yang berinfak dan pada akhirnya infak yang terkumpul sampai ratusan ribu. Jangan dikira masyarakat disana kelas menengah ke atas, karena kebanyakan masyarakatnya adalah petani konvensional namun untuk berinfak di bulan ramadhan wush..wush.. keren.. Untuk urusan Keikhlasan biarkan Allah dan pribadi masing-masing jama’ah yang tau tak perlu di persoalkan, untuk masalah etika mereka lebih tau bagaimana harus berinteraksi, kita? Ya ikuti saja…dima bumi di pijak disitu langik dijunjuang (di mana bumi di injak di situ langit di junjung).😀

Katidiang = sejenis tempat infak yang terbuat dari bambu.

This entry was posted in Islam, Umum and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Ramadhan beda #7 Badoncek

  1. Assalamu’alaykum kanda,
    Ambo pernah sata dsinan, haha. Rindu skali bs silaturrahim ksna… Salam hangat dr sini u/ warga Kodam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s