Ramadhan beda #10 Bukan karena nasab

“Orang yang Allah takdirkan untuk memiliki keduanya (kemuliaan iman dan nasab), maka telah terkumpul pada dirinya dua kebaikan. Namun jika keluhuran nasab tidak disertai keluhuran iman, maka ketahuilah bahwa keluhuran nasab tidak bermanfaat sama sekali” (Syaikh Abdul Muhsin).

Menjadi bagian keluarga orang-orang hebat adalah suatu karunia. Menjadi sahabat orang-orang hebat juga karunia. Namun keluhuran nasab atau menjadi sahabat orang-orang hebat tidak akan mengantarkan pada kemuliaan. Kemulian hanyalah efek amal yang dilakukan, bukan citra yang dibangun atas cipratan amal orang-orang hebat di sekitar. Yang tertipu akan terus tertipu, yang tersadar akan mulai beramal tidak menanti esok atau menyesali masa lalu. Terlarangkah menjadi bagian orang-orang hebat atau menjadi sahabat orang-orang hebat? Jawabannya tentu tidak. Bedanya, jangan sampai tertipu yang memperlambat amal, bahkan sampai tidak beramal sama sekali.

Betapa banyak orang yang berbangga karena pernah bertemu tokoh ini, berguru dengan ustadz ini, satu masa dengan orang ini atau membersamai dengan orang-orang hebat yang lainnya. Namun disayangkan dia tidak menjadi tokoh ini, menjadi ustadz ini atau orang-orang hebat yang pernah membersamainya. Hanya bahagia dan rasa bangga yang membuat dirinya tertipu. Tidak mau tersadar mengapa karunia seperti ini tidak digunakan untuk membuat dirinya sama dengan orang-orang yang membersamai perjalanan hidupnya.

Memilih orang-orang hebat membentuk sebuah lingkungan tentu suatu keharusan, meski ada yang berpendapat jadilah seperti ikan dilautan yang tidak ikut menjadi asin, dilingkungan yang asin. Prinsip yang menggambarkan bahwa setiap diri adalah bagaimana ia membentuk dirinya bukan karena lingkungannya. Tidak ada yang salah dari kedua pendapat ini, hanya bagaimana penerapan prinsip-prinsipnya pada situasi dan kondisi yang tepat. Penerapan prinsip yang berbuah pada amal perbuatan. Sekali lagi karena amal perbuatanlah kita menjadi mulia bukan karena kedekatan dengan orang-orang hebat atau karena bernasab dengan orang-orang hebat. Bahkan jauh hari sudah di ungkapkan oleh Rasulullah SAW :

 “Orang yang lambat amalnya, tidak bisa dipercepat oleh nasabnya” (HR. Muslim)”

Tapi menjadi bagian orang-orang hebat dan ikut menjadi hebat tentu lebih baik😀

#Renungan ramadhan ketika setiap amal berbalas lipatan pahala

This entry was posted in Islam, Tafakur and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Ramadhan beda #10 Bukan karena nasab

  1. rangtalu says:

    aamiin semoga menjadi bagian dari orang hebat dan ikut menjadi hebat bang..
    ba a caro e tu?
    lai bisa dengan berobat ke klinik tongfang se?😆

    • Al-Mandawiy says:

      ha..ha..mantap juo mah, minta tolong abang ciek cubo antum tanyoan ciek dih ka klinik tonfeng yo..koq lai ka barubah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s