Ramadhan beda#12 Emansipasi

Ini tidak ada hubungannya dengan RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) yang menuai kontroversi. Atau gerakan feminismenya irsad manji yang kebablasan lagi ngawur atau gerakan feminisme yang lainnnya yang meminta adanya kesamaan perlakuan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan. Entahlah, mereka menilai perempuan saat ini masih tertinggal dengan pria dalam bidang pekerjaan, pendidikan, politik dan lain sebagainya, yang setahu saya tidak ada perlakuan seperti ini. Contoh terdekat bisa saya lihat di keluarga sendiri atau keluarga teman-teman terdekat dan masalah di atas tidak saya temukan. Tapi kalau dilihat motifnya sih, ujung-ujungnya lebih pada penyimpangan fitrah kemanusiaan kita saja.

Kemarin 19 Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya beberap ADK mengadakan silaturahim plus iftar jama’i dan kebetulan (takdir sebenarnya) saya diundang oleh salah seorang panitia untuk bisa berbagi dengan mereka tentang sekelumit dinamika da’wah kampus. Untuk yang terlibat aktif dalam da’wah kampus unand pasti mengenal tempatnya, yakni salah satu mushalla di binuang kampuang dalam, meski pada akhirnya harus berpindah tempat di daerah yang sama di mushalla yang ada tower listriknya (yang aktifis pasti kenal). Sunnatullahnya setiap marhalah selalu ada permasalahan yang unik atau mungkin sama tapi dengan bentuk yang lain, seperti kaderisasi, tarbiyah, lemahnya harokah da’wah, VMJ dan lain sebagainya yang terucap oleh salah seorang ADK sebelum acara dimulai.

Tema yang diberikan kepada sayapun sangat menarik, apalagi di bulan ramadhan ini, tapi biar ini menjadi rahasia kami saja he…he…😀. Seperti biasa acara dibuka oleh salah seorang peserta, dilanjutkan dengan tilawatil quran dan sharing. Beberapa menit waktu yang diberikan kepada saya untuk bisa berbagi, ternyata mengantarkan kami pada salah satu gerbang kebahagiaan bagi orang yang berpuasa yakni iftar.

Disinilah menariknya, seluruh kegiatan di handle oleh ikhwan termasuk dalam masalah menyiapkan menu iftarnya. Sebelum acara dimulai panitia sempat bilang ke ana “bang kini agak lain bang, iftarnyo ikhwan yang nyiapkan”(bang sekarang sedikit beda bang, iftarnya ikhwan yang menyiapkan). Lantas saya bertanya “koq ikhwan?”, sang adik menjawab “akhwat yang minta bang, biar lebih BEDA” saya tidak tahu berapa banyak makna BEDA yang terkandung dari pernyataan itu, meski dulunya saya ketika masa-masa dikampus, kami yang ikhwan juga pernah melakukan hal yang sama. Alhamdulillah sungguh nikmat ketika sirup yang dicampur jeli membasahi kerongkongan dan beberapa gorengan sebagai menu pembuka iftar mengganjal sumatera tengah kami. Sambil menikmati menu iftar saya bertanya pada panitia “minuman iko sia yang buek?” (minuman ini siapa yang buat?) Panitia tidak spesifik menunjuk orang hanya bilang “kami bang”.

He..he…jadi teringat masa-masa dahulu ketika di kampus, pertanyaannya adalah apakah ini Emansipasi? Jawabannya tentu tidak, karena adakalanya untuk membuat suasana yang BEDA seperti pernyataan di atas, perlu sekali-kali dicoba… Ini membuktikan kalau ikhwan juga bisa, bisa nyiapin iftar itu LAKI! He..he..😀

Ikhwan : laki-laki

Akhwat : Perempuan

Iftar jama’i : buka puasa bersama

Rabu 19 Ramadhan 1433 H / 8 Agustus 2012

This entry was posted in Islam and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Ramadhan beda#12 Emansipasi

  1. Hahahaha.. Suki desu bang… Salute buat 2010….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s