APA-APA sebelum APA-APA

Entah APA-APA yang merasuki fikiran saya, dan ini kedengarannya seperti ungkapan yang negatif, mungkin bagi teman-teman yang membacanya akan beranggapan seperti itu juga tapi tidak bagi saya. Setidaknya saya telah melakukan APA-APA yang bisa saya lakukan dengan menuliskan sesuatu, kalaupun nantinya ada yang menilai tulisan ini tidak berarti APA-APA. Sekali lagi, bagi saya itu tidak APA-APA karena penilaian itu tidak sekedar APA-APA yang telah kita hasilkan, tapi juga APA-APA yang telah kita perbuat walau bernilai sangat kecil ketimbang orang yang tidak melakukan APA-APA.

Banyak orang, termasuk saya diantaranya atau lebih baiknya disebutkan saya, anda dan kita semua memiliki keinginan, cita-cita dan impian. Keinginan, cita-cita dan impian itu tidak hanya satu, tapi sungguh sangat banyak dan itu semua menjadi APA-APA yang kita inginkan. Semua APA-APA yang kita impikan bahkan telah kita tuliskan dalam bentuk sebuah resolusi kehidupan atau proposal kehidupan kita. Begitu mulianya APA-APA yang kita inginkan itu, tapi yakinlah semua itu tidak akan berarti APA-APA sebelum kita melakukan APA-APA yang seharusnya kita lakukan. Bahkan untuk sekarang ini saja, KITA adalah APA-APA yang telah kita lakukan dahulunya, silahkan nilai saja diri kita masing-masing.

Kita juga mesti sadar, bahwa kita bukanlah SIAPA-SIAPA kalau bukan karena bantuan SIAPA-SIAPA saja yang telah membuat andil dalam keberhasilan kita. Tokoh yang paling sentral dalam kehidupan kita tentunya adalah kedua orang tua, yang kita tak akan pernah menemukan jawaban seberapa besar sayangnya kedua orang tua kita, seberapa luas cinta keduanya kepada kita, maka kalau ada orang lain yang mengatakan ia begitu sayang dan cinta kepada kita jangan langsung percaya karena itu belum teruji, pengecualian tentunya terhadap rasulullah, para keluarga beliau, sahabat, orang shaleh lainnya yang tidak perlu kita ragukan lagi.

Selain kedua orang tua kita, SIAPA-SIAPA saja yang turut andil dalam keberhasilan kita adalah keluarga, tetangga, sahabat, guru, murabi yang terkadang tanpa kita sadari selain bantuan materil maupun moril yang mereka berikan, bisa jadi doa-doa mereka yang Allah kabulkan untuk keberhasilan kita. Maka jangan kita pernah lupa bahwa kita tidak akan jadi SIAPA-SIAPA tanpa ada bantuan SIAPA-SIAPA saja yang berada disekitar kita yang terkadang bisa membuat kita gembira, tersenyum, kecewa, sedih, marah dan ungkapan perasaan lainnya yang membuat diri kita menjadi APA-APA.

Hidup adalah perjuangan kata orang bijak. Maka ketika kita tidak MENGAPA-NGAPA (lebih enaknya di translate ke bahasa minang “indak MANGA-MANGA”) maka jangan harap bisa mendapatkan APA-APA yang kita inginkan. Karena bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan APA-APA yang kita inginkan sedangakan kita tidak MENGAPA-NGAPA (MANGA-MANGA). Sudah menjadi kodrat alamnya “hukum tanam tuai”, yang menanam insyaAllah pasti akan menuai, yang menanamkan kebaikan akan menuai kebaikan yang menanam keburukan juga akan menuai keburukan dan bahkan ketika kebaikanpun yang kita tanam tanpa ada perawatan maka akan ada hama-hama yang mengerogotinya dan itulah Ria (bukan nama orang tentunya). Ibarat menanam padi, rerumputan yang tidak diinginkan pun ikut tumbuh apalagi kalau kita tidak menanam padi jangan harap padi bisa kita tuai.

Hidup pasti ada masalah, begitu juga kata orang bijak. Karena tidak akan dikatakan hidup kalau tidak ada masalah, orang yang tidak ada masalah dalam hidupnya itulah yang menjadi masalahnya kenapa tidak ada masalah. Sedangkan orang yang sudah meninggal saja masih ada masalah, yakni bagaimana jenazahnya harus diselenggarakan, dan yang paling penting adalah bagaimana di akhirat nanti ketika pengadilan akhirat mempermasalahkan kehidupan kita, sudahkah kita menyelesaikan permaslahan itu dengan jawaban terbaik?? Maka jawabannya adalah hari ini ketika tubuh masih bisa bernafas, jantung masih bisa berdenyut dan mata masih bisa melihat mentari terbit di timur. Mari persiapkan bekal agar kehidupan di akhirat tidak jadi masalah.

Kita berharap kita bukanlah menjadi permasalahan kehidupan yang tidak KENAPA-KENAPA orang menjadi menderita karena ulah kita. Apakah itu karena mulut yang suka menghibah, sikap yang suka menfitnah, atau perilaku yang selalu membuat resah. Ah..seharusnya kita menjadi pemecah permasalahan, yang mencoba menyelesaikan permasalahan dengan sesederhana mungkin, bukan mencari masalah yang sederhana karena itu tak akan pernah membesarkan kita. Ibarat sebuah persamaan matematika yang berharap rumus jadi untuk menyelesaikannya maka tak akan pernah ada, yang ada adalah kita menyederhanakan persoalan dan menggunakan rumus-rumus sederhana untuk menyelesaikannya.

Kita juga berharap DIMANA-MANA kehidupan kita membuat orang menjadi senang. Kelahiran kita yang diiringi tangisan kita, namun membuat orang lain yang menyambutnya begitu bahagia, tersenyum dan tertawa serta mengucapkan syukur. Begitu juga dengan kematian kita nantinya, orang melepaskan kita ke liang lahat dengan meneteskan air mata karena merasa kehilangan kita. Bukan malah sebaliknya DIMANA-MANA kehadiran kita malah membuat orang sekitar menjadi resah, ibarat “MIANG” yang membuat gatal orang yang mengenainya. Dan lebih tragisnya bukan tangisan yang mengantarkan kita ke liang lahat tapi senyum tipis kebahagiaan karena hilangnya pembuat kacau negri.

KAPAN-KAPAN kalau kita punya waktu, kesempatan dan peluang cobalah untuk meninggalkan kampung halaman. Ini tidak lain adalah untuk menjawab perintah Allah agar kita “fantasyiru fil ardh” bertebaran dimuka bumi. Melihat begitu luasnya ciptaan Allah agar diri semakin tunduk, taat dan menghinakan diri  akan kemaha besaran Allah, kemaha agungan Allah dan semua sifat-sifat Allah yang lainnya. Sepertinya ungkapan ini saya khususkan untuk diri saya pribadi (perkenankan ya Allah agar hamba bisa mengelilingi bumi ciptaanMu terutama dalam rangka menuntut ilmu) dan umumnya untuk KITA semua.

Sepertinya APA-APA yang telah kita tuliskan menjadi sebuah resolusi dan proposal kehidupan kita maka yakinlah semuanya insyaALLAH pasti akan tercapai, BAGAIMANA-BAGAIMANA nantinya kita serahkan saja kepada Allah karena Allah yang maha tahu tentang APA, KAPAN, SIAPA, DIMANA, MENGAPA, BAGAIMANA tentang resolusi dan proposal kehidupan kita.

Hm…sepertinya APA-APA yang saya tuliskan di atas sudah mengurangi APA-APA di fikiran saya. KITA bukanlah SIAPA-SIAPA tanpa bantuan orang di sekitar KITA, dan DIMANA-MANA adalah sarana belajar bagi KITA, untuk itu KAPAN-KAPAN KITA akan bercerita lagi, BAGAIMANA-BAGAIMANA nantinya Allah yang akan putuskan dan itu tidak MENGAPA-NGAPA bagi KITA, karena KITA yakin cita, cinta dan impian KITA, akan Allah berikan yang terbaik sesuai dengan ikhtiar dan doa KITA..

PS : 3 bulan menjelang akhir resolusi 2012..insyaAllah tercapai..Aamiin ya Rabbal ‘alamin..

sumber gambar : http://edukasi.kompasiana.com/2012/01/31/5w-1h-dalam-mengembangkan-ide-cerita/

This entry was posted in Curhat, Tafakur, Umum and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s