Saat itulah padam menjadi akhirnya

Aku hanya lentera biasa

Menyala dengan cahaya apa adanya

Tak seperti mentari berbinar mempesona

Menerangi seluruh alam tata surya

Aku tau bukan gelap menjadi prahara

Tapi karena tidak ada cahaya yang meneranginya

Bila mereka hanya mampu menyalahkannya

Biarlah aku menjadi pelita di jalanNYA membawa harapan bagi mereka yang berputus asa

Aku juga tahu karena cahayaku terlalu redup

Kadang jadi remang oleh angin yang bertiup

Tapi bukan alasan untuk tidak mau menyala hidup

Agar gelap pun tak lagi menutup

Aku tak perlu malu untuk terus bercahaya

Sampai yang empuNya meniupnya

Atau api membakar habis minyak zaitunnya

Saat itulah padam menjadi akhirnya

#Spesial untuk panitia ISTANA 2012 “TERUSLAH BERCAHAYA HINGGA GELAP PUN HILANG ENTAH KEMANA” (Tetap Semangat InsyaAllah Kejayaan Islam Pasti Akan Bersinar Dari Tangan2 Kita)

#Kuranji 19 Oktober 2012 (23.40 WIB) saat Gerimis dan PLN tak lagi memadamkan listriknya

Sumber Gambar Disini

This entry was posted in Curhat, Islam, Puisi, Tafakur and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s