Aku, Kau dan Kita Semua

Meski sekarang tidak lagi tanggal 10 November yang di jadikan sebagai hari pahlawan oleh bangsa indonesia, tapi tidak ada salahnya saya menulis tentang tema kepahlawanan atau apapun yang memiliki kata pahlawan. Sebenarnya ingin rasanya menulis tentang tema ini lebih awal. Namun, karena keterbatasan seperti komputerku yang rusak ditambah lagi notebookku yang juga ikut2an rusak membuat pikiran ini sulit untuk dialirkan menjadi baris kata-kata menjadi sebuah tulisan. Sebuah ungkapan oleh salah seorang tokoh yang saya kagumi ust Anis Matta pernah berkata “Berprestasi di tengah keterbatasan adalah kepahlawanan dalam bentuk yang lain”, meski tulisan ini bukanlah suatu prestasi bagi sebagian orang, namun cukup bagi saya untuk mengapresiasi diri memenuhi ruang berfikir dan kehidupan untuk senantiasa menulis.

Tema tentang pahlawan ini sungguh sangat menarik, namun tidak semua orang banyak tertarik untuk membahasnya apalagi ingin menisbahkan dirinya sebagai seorang pahlawan. Pahlawan bukanlah arti sempit yang kita pahami selama ini, yakni orang yang meninggal di medan juang atau berjasa terhadap suatu bangsa kemudian diberikan gelar oleh negara sebagai pahlawan. Pahlawan juga bukanlah orang yang dimakamkan di taman makam pahlawan, yang pemakamannya harus diiringi oleh sejumlah tentara dan ketika penghormatan terakhir diikuti dengan tembakan senjata ke langit.

Pengkhususan pemahaman tentang pahlawan ini akhirnya akan membuat semua orang menjadi tak bergairah untuk menjadikan dirinya sebagai pahlawan. Sebagai saran, saya merekomendasikan kepada kepada kita semua sebuah buku yang sangat menarik untuk mengubah persepsi kita tentang pahlawan. Buku yang satu ini juga sangat menginspirasi saya, dan saya kira bukan buku ini saja, namun orang yang menulis buku ini lebih jauh banyak memberikan inspirasi. Buku itu berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia”, buku yang sudah lama saya miliki. Buku ini tentu bukanlah buku yang sempurna yang tidak ada kurangnya, seperti ketika kali pertama buku ini di launching saat Book Fair di Kota Padang beberapa tahun yang lalu saya lupa (kira2 tahun 2004 atau 2005) yang juga mendapat kritikan. Namun begitulah pahlawan, ia bukanlah malaikat yang tidak ada salah, tapi ia adalah manusia biasa yang juga melakukan kesalahan. Sebagai penutup saya kutip lagi tulisan beliau dalam bukunya “ Mencari Pahlawan Indonesia” :

Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufik Ismail di tahun 1966, “Merelakan kalian pergi berdemonstrasi… karena kalian pergi menyempurnakan… kemerdekaan ini”.

 

Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tinggalkan senjata dari bahumu?”

Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata : “Jadilah pahlawan itu”.

This entry was posted in Islam, Tafakur, Umum and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s