Kalau sakit “tempo” dulu

tempo1

Membaca dan mendengar berita akhir-akhir ini seakan membawa kami ke masa dahulu ketika masih kanak-kanak. Masa dimana kami memakai seragam putih merah dan bermain dengan senangnya. Mungkin ada yang bertanya, trus apa hubungannya berita sekarang ini dengan masa kanak-kanak. Secara substansi sih emang tidak ada, namun yang mengingatkan kami adalah kata “Tempo” nya. Ini tidak berlaku khusus pada salah satu majalah online ataupun cetak dengan nama yang sama, walaupun saran kami dari tulisan ini juga berlaku untuk majalah tersebut.

Media elektronik atau cetak baiknya adalah sebagai sarana pendidikan dan pencerdasan kepada pembaca dan pendengar. Informasi yang disuguhkan hendaknya dengan bahasa yang mendidik dan informasi yang benar dari sumbernya. Namun terkadang indepedensi sebuah media seringkali tergadaikan karena tekanan dari beberapa pihak, baik itu dari sang pemilik media ataupun dari pihak luar dengan biaya sebagai uang terimakasih. Dengan kondisi tersebut kadang-kadang berita yang ditampilkan lebih cendrung menyerang orang atau kelompok tertentu karena ada pesanan dari pihak lain. Isi berita pun lebih cendrung provokatif dan membuat penyesatan opini, maka tidak salah ungkapan muncul “bad news is good news”. Tapi begitulah media, sama halnya dengan pedang tergantung siapa yang memegangnya, jika yang memegangnya adalah orang baik maka bergunalah pedang yang ada, jika yang memegangnya adalah orang yang jahat maka celakalah yang terjadi.

Kembali kepada topik awal tentang kata tempo. Dahulu ketika kami masih SD, dan ketika berhalangan tidak bisa masuk sekolah karena sakit misalnya, maka orang tua kami akan menyarankan “kalau sakit tempo  dulu”. Begitu saran orang tua kami, mungkin ini terkait bahasa yang digunakan. Bagi kami kata tempo itu sama dengan tidak hadir. Nah untuk kondisi saat ini kami juga melihat BEBERAPA media online ataupun cetak sepertinya mengalami sakit yang cukup akut. Berita-berita yang di turunkan cendrung provokatif dan menyesatkan, sekali lagi kami katakan tidak seluruh media.

Contoh sederhana yang kami dapatkan adalah salah satu media online atau cetak yang sudah lama hadir di negri ini meski banyak media yang baru muncul juga melakukan hal yang sama. Media ini sering kali muncul dengan berita dan data-data yang cukup mengagetkan public di negri ini. Emang tidak seluruh beritanya yang salah, namun beberapa diantaranya jauh dari kebenaran dan menyesatkan. Yang menyedihkan adalah ketika kesalahan itu berasal dari orang lain maka berita yang terbit dengan serangannya yang bertubi-tubi, tidak cukup dua atau tiga berita saja, namun sampai beberapa hari dengan judul yang  berubah dengan konten yang sama. Bagaimana jika sang media yang salah maka klarifikasi cukup lama dan jangan harap ada permintaan maaf kalau tidak di minta. Untuk penulisan judul, ini emang salah satu cara bagi penulis untuk menarik para pembacanya, dan hal yang sama juga kami lakukan. Meskipun demikian, judul tetaplah judul yang mesti mengandung kebenaran dan tidak menyesatkan.

Coba perhatikan foto di atas, kira-kira apa yang salah dalam pemberitaannya. Kami tidak akan menjelaskannya karena kami yakin pembaca bisa menganalisanya. Foto itu kami ambil hasil dari print screen notebook kami dari berita yang di terbitkan oleh sang media. Namun beberapa pembaca sudah terlanjur mengamini berita yang diterbitkan, padahal ternyata ada yang aneh dari beritanya. Kami tidak tahu apa yang terjadi pada kru sang media apakah sedang sakit, baik itu sakit fisik atau sakit hati atau sakit apapun. Namun saran kami jika kru sang media sedang sakit maka nasehat orang tua kami juga pantas untuk di sampaikan “kalau sakit tempo dulu”. Saran ini meyiratkan kepada sang media jika emang lagi sakit obatilah dahulu, jangan karena kebencian pada satu kaum membuat kita tidak berlaku adil. Kami sadar kesalahan adalah wujud kemanusiaan kita, tapi jangan sampai kita selalu mengambil standar ganda untuk kesalahan yang kita dan orang lain lakukan.

Berita di atas akhirnya di ralat juga oleh sang media, mungkin karena banyak pembaca yang terkekeh membacanya dan melaporkan kepada redaksinya. Hm…sepertinya ini baru satu pelajaran penting bagi kita ketika mendengar dan membaca berita, jangan langsung menerima berita yang ada tanpa ada sumber lain yang dijadikan sebagai pembanding. Sebenarnya banyak kasus yang terjadi seperti berita “Rohis sarang teroris” oleh metro tv yang pada akhirnya sang media pun meminta maaf, itupun karena di paksa, atau berita-berita lainnya yang pendapat dari narasumbernya sudah dipelintir. Ingin tau lebih lanjut bisa diikuti koq dari media-media yang ada. Sepertinya pepatah orang tua kita dahulu ada baiknya juga kita inap-inapkan lagi “koq paik jan langsuang di muntahkan, koq manih jan langsuang di lulua = jika pahit jangan langsung di muntahkan, jika manis jangan langsung di telan”

This entry was posted in Curhat, Umum and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kalau sakit “tempo” dulu

  1. benar tuan, benar sekali apa yang tuan sampaikan. ibaratkan kata pepatah yang lain “gajah di pelupuk mata tak kelihatan, semut di seberang lautan kelihatan”

  2. rangtalu says:

    hehehe iko nyo yg disampaikan malam hari itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s